Jumat, 31 Januari 2014

(H)Ayam Seuhah Tiga Cabe

Doc pribadi
By Andar @ Art Roemah Tjahaya
Hmm, sebagai IRT olahan ayam adalah lauk daging yang paling mudah di dapat, pun bisa divariasikan dengan banyak olahan. Aku pribadi sebenarnya bosan dengan yang namanya daging ayam, jujur saja aku lebih meni'mati goreng tempe dengan sambel toge daripada makan dengan daging ayam.

Berhubung suami sukaaa bangeuud sama si 'ayam' yah dengan senang hati kudu masak ayam begitu Cinta order ayam ^_^

Nhah, untuk kesempatan hari ini suami pesen ayam dicabein. Beliau memang pelahap sambel. Biasanya aku klo nyabein ayam hanya pake cabe merah kriting, biar pedesnya 'sumer sumer', gitu priyantun Jowo bilang. Karena aku nggak mau bikin sambel juga, maka kali ini resep ayam cabe/baladonya aku puedesssin ( hyaaa, meuni lebay nulisnya heheu)

Nhah ini resepnya, sudah biasa mungkin yaa...
Anyway seneng nulis aja sih akunya ^_^ \/

Rabu, 29 Januari 2014

Leunca Masak Tauco

Cullinary Batik Cullinary : Leunca masak Tauco
Doc. Pribadi
Foto by : Andar ; Art Roemah Tjahaya

Bahan   :
1 pack plastik kiloan Leunca

Bumbu :
3 siung bawang putih, iris tipis
6 siung bawang merah, iris tipis
3 buah cabe merah kriting, iris serong
3 buah (ato sesuai selera pedas) cabe rawit    merah/cengek domba.
1 ato 2 pack tauco kemasan kecil
1/2 sendok teh garam, ato sesuai selera
Penyedap secukupnya, saya suka pakai Saori tiram

Cara memasak :
Siangi/petik leunca dari tangkainya, cuci bersih.
Panaskan wajan, tuangkan minyak goreng 3 sendok makan.
Tumis bawang putih, bawang merah, dan cabe hingga wangi.
Masukkan leunca, aduk beberapa lama.
Tambahkan tauco, garam, dan penyedap.
Tuangi sedikit air, tunggu sebentar. Matikan kompor.
Leunca masak tauco siap dihidangkan untuk menemani nasi hangat.

Selamat memasak...
Apapun masakan kita, diolah dan disajikan dengan cinta, pasti istimewa ^_^

Jumat, 17 Januari 2014

Dilema pussy : good bye Zumi

Hewan kesayangan atau peliharaan, menurut mereka yang ahli dalam bidangnya, baik untuk perkembangan jiwa anak. Dari hewan peliharaan itu, anak terbiasa/belajar bertanggung jawab, belajar menyayangi, atau belajar peduli.
Aku sendiri 'penyayang binatang', dari kecil teman bermainku kucing dan anjing, juga ayam ayam milik uyutku. Karena itu setelah berkeluarga dan punya anak, hal itu 'nurun' ke anak. Riyadh suka sekali dengan hewan  hewan peliharaan macam hamster, kelinci, ayam, pun kucing.
Nha, diantara semua itu yang paling sering ikut jadi penghuni rumah adalah kucing. Karena nggak harus beli, beberapa kali kucing kampung liar, mukim di rumah kami. Meski kucing kampung mereka cukup sopan dan 'lulut' hingga akhirnya berstatus jadi milik kami. Ada yang sampai beranak pula. Pun ada yang karena buangan ketika masih cemeng.
Salah satu kucing yang ikut tinggal di rumah adalah Zumi 'cemong'. Ia kutemukan pada sebuah siang karena ngeongannya membangunkanku dari tidur. Kutelisik dan mencari ternyata seekor anak kucing dengan tubuh basah kuyup dan penuh tanah berada di kebun kosong. Kubawa ke rumah kemudian kumandikan. Anehnya setelah mandi, kucing itu tak bisa berdiri, padahal badannya sehat.
Kerhatikan dengan seksama, ternyata seutas benang gelasan menjerat lehernya sampai meninggalkan lebam merah saking kuatnya. Aku sedikit panik mencari cara melepaskannya, khawatir ia mati sebab nafasnya sudah tersengal. Alhamdulillaah, berhasil juga. Aku ingat hari itu kira kira hari ke tiga bulan Muharram 1435H. Sejak hari itu ia tinggal di rumah kami dan 'resmi' jadi kucing kami, sebab tak ada orang kampung yang nanya nyari anak kucing. Heheu memang di sini banyak kucing liar, sih.
Zumi pada hari pertama kutemukan
Hingga seterusnya jadilah Zumi kucing kesayangan kami. Gerak geriknya atraktif dan lucu. Di subuh pertama Zumi membangunkan Riyadh dengan lucunya, hingga sejak saat itu setiap subuh ketika aku membuka pintu dapur, Zumi langsung 'menyerbu' Riyadh untuk dibangunkan, aku tak lagi repot membangunkannya setiap mau mandi persiapan sekolah. Alhasil Riyadh selalu bangun pagi pagi dan bermain dulu dengan Zumi.
Kelucuan Zumi tak hanya menarik perhatianku dan Riyadh, tapi juga abinya. Dari beliaulah Zumi mendapat panggilan Cemong, karena warna hitam pada bagian hidung dan mulutnya.
Sejak punya Zumi, setiap pulang sekolah selesai salaam yang ditanyakan Riyadh, "Mana Zumi?" sudah laiknya saudara dan teman bermain saja.
Main rumah rumahan
Hanya sayangnya, keduanya sama sama 'hiperaktiv', adaaaa saja hal hal yang membuatku harus yelling, "Abaaaang, tidak begitu." ketika mendengar ngeongan Zumi yang 'teraniaya'. Meski begitu berdua dua mereka tuh selalu bersama. Bahkan ketika mandi pun Zumi menunggu dengan setia di luar kamar mandi.
Nungguin Abang mandi
Pokoknya Zumi is the best friend ( jiaaah).
And... perpisahan itupun tak terelakkan. Pada 1 Januari, kami bertiga pergi ke kota untuk refreshing di toko buku. Zumi yang habis sakit, tidak kami masukkan dulu ke rumah. Sepulang ke rumah tak kami temui Zumi di kursi rotan tempat ia biasa tiduran. Menunggu hingga petang, malam, bahkan subuh sepulang abi dari masjid tak menjumpai Zumi di teras. Biasanya Zumi tidur di kursi rotan teras depan ketika pulang tak dapat pintu.
Sejak itu, hari seakan sepi. No yelling anymore. Akupun harus kembali membangunkan Riyadh dengan seribu jurus. Pagi pertama masih mempan dengan bilang, "Tuh dicariin Zumi" namun berikutnya, Riyadh tau Zumi sudah tak ada lagi.
So sad... mungkin hanya aku yang lebay dengan kepergian Zumi. Suaranya terngiang mengeong menjadikanku terjaga tengah malam, pun siang hari. Sometimes pingin nangis keinget Zumi.
Ya Rabb, aku ingin Zumi kembali ke rumah ini. 
Kami yakin Zumi dibawa orang yang lagi lewat. Setelah sakit, Zumi memang lebih kalem, mau digendong siapa saja, dan seneng tiduran di rerumputan pinggir jalan rumah.
Abinya sering mengingatkanku, "Ya sudah, iklasin aja. Moga Zumi mendapat perawatan lebih baik dari kita." Hiks, inget Ginzo, yang dibawa orang ketika masih kecil. Sama kasusnya, kami tinggal pergi ke kota. Iput, sang induk dengan empat ekor anak yang lucu lucu, tidak kami masukkan rumah. Ketika pulang, Kenzo, Yuki, dan Yumi kehilangan satu saudaranya.
(Kisahnya mengaksara lain waktu yaa)









Tulisan ini diikut sertakan untuk event-nya Rumah Ronin http:/dhenok.net/shop/

Selasa, 01 Oktober 2013

Terkabulnya doa doa

       Ramadhan 1434H, menjalankan ibadah shoum Alhamdulillaah lancar sampai hari Raya 'Idul Fitri tiba. Nggak kepikiran macem-macem karena pas banget hari pertama shoum saya baru 'bersih'. Rasa pusing dan mual pada hari hari terakhir pun hanya dianggap masuk angin.
       Syawal sudah lewat seminggu, saya dan keluarga kecil saya pulang ke Bandung. Setelah merayakan lebaran di rumah mertua di Jakarta.
       Sehari, dua hari berlalu si tamu tak datang juga, akhirnya diputuskan untuk beli testpack kehamilan. Tanpa menunggu pagi, sore itu juga saya melakukan test. Alhamdulillaah, setelah hampir empat tahun akhirnya dua garis merah pun terlihat.
       Namun entah, apa karena sebelum sebelumnya, setiap testpack karena merasa 'telat' selalu melihat satu garis merah. Maka tak ada teriakan kegirangan, saya hanya membawa hasil test pada suami,
       "Ini bener nggak sih?" tanya saya sembari memberikan stick kecil berwarna putih. Suami malah balik memandang saya, diam kemudian tersenyum.
       "Alhamdulillaah, akhirnya. Barokah Romadhon insyaAlloh."
        Jadi bener, saya hamil lagi pada usia anak saya empat tahun lewat dua bulan. Kiranya Alloh pemilik rencana paling baik.
        Dulu saya ingin KB, niatnya kalau si sulung umur lima tahun baru punya adik. Empat bulan setelah melahirkan saya ikut KB. Berhubung waktu itu di bidan hanya ada pil KB karena serum suntiknya sedang kosong, maka saya pakai pil.
        Menggunakan pil, efek yang saya rasakan adalah mual dan pusing di minggu pertama, selanjutnya normal saja, haid pun lancar. Bulan berikutnya, ketika datang ke bidan saya bingung. Ngepil lagi saya tidak mau efek mual dan pusingnya. Suntik, jujur saja saya takut sama jarum suntik. Keringat dingin, mual itu yang saya rasakan setiap mengetahui saya mau disuntik. Bahkan pernah sewaktu masih lajang, saya urung suntik imunisasi karena saya sudah lemes dan muntah muntah duluan sebelum giliran saya. Akhirnya mantrinya juga urung memberikan suntikan imunisasi.
        Pada akhirnya, bidan memutuskan agar saya suntik KB yang tiga bulan sekali, biar nggak keseringan disuntik heheu. Alhamdulillaah tidak ada efek yang saya rasakan. Badan normal alias nggak jadi gemuk atau kurus. Haid lancar, nggak ada keluhan lah kecuali efek phobia jarum suntik :) Tapi saya hanya bertahan dua kali suntik, setelah itu tidak berKB. Kesepakatan saya dengan suami.
       Dua tahun tidak berKB, aman aman saja. Padahal suami atau juga saya sendiri, selalu kabitaeun melihat teman-teman pada nambah momongan. Hingga waktu waktu berikutnya adalah penantian penantian yang tak berkesudahan. Ke Paraji, Dokter Kandungan. Semua baik baik saja, tidak ada masalah. Memang belum waktunya.
      

Minggu, 21 April 2013

Ngobrol Bareng Suami [1]

Beberapa hari kemarin, pulang kerja hampir tengah malam. Suami tercinta sharing, kalau beliau tadi dikerjaan baca bukunya pak Habibie. Baru dapat satu atau dua halaman gitu.
"Abi sampai terharu lho, Mi. Membaca bagaimana perjuangan pak Habibi dan bu Ainun hidup di Jerman menempati rmah kontrakan."
Kemudian berlanjut bla, bla, bla...
"Abi jadi merenung tentang kita, tentang Umi..."
"Kenapa gitu?"

Sup krim Modif

Awalnya pengen bikin sup krim, tapi my prince Shah Riyadh minta dibikinin bubur ayam. Jadilah ini....
Bubur atau sup nih yaa
Yuk ikutan bikin, resep ini praktis buat kita-kita yang suka masak a la 'wild' hehehe...
Bahan-bahannya aku nggak suka timbang-timbang ukuran beratnya. Langsung siapin aja

Rabu, 27 Maret 2013

Mini Pizza Crunchy



Mini Pizza Crunchy
dokumen pribadi


Roti :               250 gram terigu
                         8 gr Fermipan (ragi instan)
                        Gula pasir sesuai selera (saya gunakan 1 sm)
                        Garam sepucuk sentok the
                        Air hangat secukupnya (ada yg menggunakan air es)